Bertemu Saudara di Timor Leste

Perjalanan menuju Timor Leste diawali dengan tergopoh-gopoh. Karena teman saya yang bule lupa membawa surat keterangan Setneg bahwa bebas pajak dan tidak terkena NPWP, maka kami harus kembali keluar bandara dan menarik uang dari ATM. Tapi tidak semudah itu, karena waktu ternyata sudah mepet dan kami harus benar-benar berlari untuk sampai ke pintu pesawat.

Berhasil! Terengah-engah kami akhirnya masih bisa mencapai gate 9 bandara Ngurah Rai, dimana ternyata masih banyak orang telat lainnya mengantri. Dengan menumpang Merpati kita akhirnya bertolak menuju DIli, dimana paspor saya mendapatkan stempel pertamanya setelah sekian lama. Kesan pertama setelah sampai di sana? Banyak sekali bule yang berseliweran. Entah itu turis ataupun orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dari negara yang baru lahir ini.

Kesan itu berlanjut ketika kita memasuki kota Dili. Sangat mudah untuk menemukan kendaraan operasional lembaga internasional, dan juga, produk-produk internasional di toko ataupun pom bensin. Akhirnya saya menyimpulkan: Bukan, orang-orang asing tersebut bukan turis. Mereka memang bekerja di sini dan mengisi kekosongan sebagai konsultan, staf ahli, pemasok barang dan sebagainya. Mereka mengisi keahlian yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat, tetapi ternyata belum mampu diisi oleh penduduk setempat sendiri. Apa jadinya jika UN dan sejumlah lembaga itu keluar dari Timor Leste? Itu yang menjadi pertanyaan saya sedari menginjakkan kaki negara tetangga ini.

Sungguh menarik berada di sini. Kita berada di sebuah pulau di wilayah Indonesia, tetapi berada di sebuah negara yang berbeda. Plat nomor kendaraannya berbeda, benderanya, bahasa resminya, paspornya, tetapi mereka sebenarnya orang-orang yang sama yang 10 tahun yang lalu masih mengikuti upacara bendera Merah Putih di sekolah-sekolah. Kini mereka dipimpin oleh Ramos Horta tetapi menonton Indosiar di rumah dan mendengarkan Peter Pan di mobil.

Tak disangka, orang Timor menyambut saya dengan sangat ramah. Gestur, bahasa dan bahasan yang mereka tawarkan dalam percakapan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk prasangka. Yang ada malah saya yang membawa prasangka. Sejarah yang memisahkan Indonesia dan Timor Leste sama sekali tidak dirasakan. Mereka sangat antusias dalam melayani obrolan dan sangat santai membahas cerita-cerita keseharian mereka sekarang. Saya pun menjadi sangat simpatik dan perasaan betah muncul dengan mudah.

Tidak hanya manusianya, alamnya pun sangat membuat betah. Terlepas dari penataan kota yang masih terasa kurang di sana sini, Timor Leste memiliki alam yang menarik. Jalanan yang mulus membuat medan Timor Leste menjadi impian semua penggemar touring, baik mobil maupun motor. Jalan berkelok dan naik turun menyegarkan indera seorang pengelana dan pengendara sejati. Barisan bukit dan pegunungan kecil juga sangat mengasyikkan bagi pencinta alam yang ingin mencari nuansa berbeda.

Kota Dili adalah kota yang sederhana dan sedang berbenah. Memang tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk menampung penduduk Timor ditambah dengan ratusan warga asing yang bekerja untuk UN dan lembaga-lembaga asing lainnya. Jalan raya yang paling jalan yang terletak langsung di pinggir pantai Dili. Di sana terdapat berbagai hotel dan kantor kedutaan asing. Di antaranya terdapat Kedutaan Amerika Serikat, Malaysia, Brasil dan juga wisma Indonesia. Di sini tampak kegiatan masyarakat yang sudah pulih dan mencoba untuk memacu kembali kegiatan perekonomian maupun sehari-hari kota Dili. Di pantai yang terhampar, dengan mudah kita bisa menemukan warga Dili yang menjajakan ketupat dengan ayam atau ikan bakar. Dengan angin dan ombak yang mengiringi, jajanan seperti itu benar-benar terasa nikmat. Dan warga Dili juga tampak menikmatinya. Bersama keluarga dan teman-teman mereka menikmati udara sore, dan juga sambil bermain bola.

Ada banyak sekali cerita yang saya peroleh dari Dili dan Timor Leste. Saking banyaknya, tidak bisa dimuat di sini. Tetapi yang pasti, saya berharap suatu saat bisa kembali ke sini. Untuk memastikan bahwa cerita-cerita tersebut menemukan sambungannya.

Tentu kawan-kawan di Timor Leste sedang mencoba untuk merangkak dan menulis bab awal dari kisah negeri mereka. Terlalu dini bagi saya dan kita semua untuk menilai, mengukur ataupun meramal nasib negara ini ke depannya, Yang pasti,bagi saya, Timor Leste adalah negara dengan penduduk yang simpatik. Yang gemar berdansa, gemar bertukar cerita dan mencintai perdamaian.

Meskipun status saya di sini sebagai seorang warga negara asing, saya justru merasa seperti berada di rumah sendiri. Bagi saya, berkunjung ke Timor Leste adalah perjalanan untuk bertemu dengan saudara.

 

 

 

 

One thought on “Bertemu Saudara di Timor Leste

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>