Sawitmu, Sekolahku

"The more expensive a school is, the more crooks it has"
J.D Salinger – Catcher in the Rye

Di tengah-tengah perumahan Bumi Serpong Damai yang asri dan tertata rapih, berdirilah sebuah bangunan menawan yang jika dipandang dari kejauhan, hampir menyerupai sebuah mal. Letaknya persis di pojok, perempatan Jalan.. Posisinya yang strategis menyiratkan harga tanahnya yang pasti cukup mahal. Apalagi jika dikalikan dengan luas lahan yang ditempati.


Bangunannya sendiri mungkin hanya menempati 5/8 dari luas lahan. Tetapi, dengan tiga lantai yang dimiliki, bangunan itu pasti dapat menampung banyak ruangan dan manusia, untuk keperluan apapun. Keberadaan sebuah gedung bertingkat tiga di wilayah BSD bukan sesuatu yang luar biasa. Puluhan ruko dan sentra niaga dapat kita temui di kota satelit tersebut.

Sama halnya dengan gedung yang telah digambarkan di atas. Apa yang terdapat di dalam gedung tersebut adalah fasilitas yang sepertinya dicari-cari oleh penduduk kota tersebut. Sebuah kebutuhan utama, sekaligus hak dasar tiap warga negara Indonesia. Sesuatu yang kita namakan pendidikan. Dalam realita kebendaan, kita mengenalinya dalam bentuk ruangan segi empat yang kita namakan sekolah.
 
Ternyata, gedung bertingkat tiga di pojok jalan T.M. Pahlawan Seribu, BSD, yang ternyata merupakan sebuah sekolah itu, juga memiliki sebuah nama. Sinarmas World Academy mereka memanggilnya dan merupakan produk terbaru dari kelompok taipan Sinar Mas yang, menurut penuturan mereka, adalah wujud dari kepedulian terhadap dunia pendidikan Indonesia. Memajukan pendidikan nasional, sembari mempertahankan privilese sekelompok orang, mungkin adalah istilah yang tepat.
siapkan minimal 100 juta

Privilese ini memang sebuah kemewahan. Sebanding dengan kemegahan gedung, luas lahan dan tentu juga bayaran sekolah, adalah fasilitas yang ditawarkan Sinar Mas cs. Mulai dari satpam dengan metal detector lengkap dengan senyum hangat, hingga ke guru bule yang ga ngerti apa kata anak-anak. Sebuah keadaan yang akan semakin umum di pendidikan swasta, akibat tren sertifikasi internasional dalam dunia pendidikan. Ah, toh orang tua dari anak-anak ini memang tidak pernah berniat untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk peduli pada lingkungan sekitar. So why should they give a damn anyway, right?

Di wilayah bumi lain, ribuan kilometer dari sekolah tersebut, di tengah hamparan hutan dan belantara rimba, berjejerlah ratusan, dan bahkan ribuan pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah versi lain dari kisah soal blood diamond. Ini adalah cerita soal lingkungan alam dan sosial yang terlantar akibat pengerukan sumber daya yang meresahkan. Dan, pemilik perkebunan tersebut adalah tangan-tangan yang menggelontorkan miliaran rupiah untuk membangun sebuah world academy. Meja dan bangku di sekolah tersebut adalah hasil dari pembabatan paru-paru masyarakat di sebuah wilayah yang hanya mereka kenal dari foto di buku. Itu juga kalau kurikulumnya mengizinkan mereka untuk belajar soal Geografi Indonesia.
 

Ah, tapi saya sudah kebayang koq bagaimana guru mereka akan mengajarkan geografi. Dalam bahasa Inggris tulen, berujarlah guru pirang mereka : “Kids, this area here is Riau. That is where you can find palm oil and tropical rainforest. Both are natural resources which are good for the economy. “

That is where your daddy got the money to pay your ridiculous tuition fee.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>