Kamu Sama Seperti Mereka Koq..

Akhir akhir ini kita kembali ditemani dengan manusia-manusia yang kita namakan teroris. Di layar kaca, di media cetak, dan juga di blog-blog seperti ini kita kembali diajak untuk bertatap dengan mereka. Dalam konteks kebaikan versus kejahatan, dalam laga Hero versus Villain, kita menyaksikan bagaimana seolah dunia sedang bertarung melawan penjahat dungu yang senantiasa mencekam kita dengan bom-bom dan aksi bunuh dirinya.

Terbuai oleh siaran langsung dan wawancara dengan nada-nada tinggi dan memojokkan, kita tidak menyadari bahwa mereka yang kita sebut dengan teroris itu mungkin hanya pembawa pesan bagi kita. Pesan yang sering kali tidak bisa kita pahami, karena hanya sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mencicil angsuran mobil dan menyekolahkan anak di luar negeri.

Bahwa penyampaian pesan itu dilakukan dengan cara-cara yang amoral dan tidak manusiawi, tentu tidak bisa kita terima. Tetapi keputusasaan memang bisa memaksa orang untuk bertindak di luar batas. Seorang ayah yang akibat kebuntuan ekonomi menghabisi keluarga sendiri dan kemudian bunuh diri. Seorang Ibu yang akibat ketidakmampuan mengobati penyakitnya mengakhiri hidupnya.

Hal yang sama terjadi ketika orang merasa putus asa terhadap peradaban. Ketika orang merasa bahwa dunia yang serba abu-abu harus dikembalikan kepada tataran hitam putih. Ketika orang merasa bahwa dunia yang ia tempati begitu salah dan tidak berpihak pada dirinya. Di saat itulah ia bisa mengambil jalan yang oleh orang lain tidak bisa dipahami. Di saat itulah ia merasa menemukan jalan kebenaran yang oleh orang lain dipandang sesat. Keputusasaan menjadi pintu asa baginya.
Memahami orang- orang seperti itu sebenarnya sangat mudah.

Mereka dihiraukan.
Jangan salah, kita yang tidak pernah mau mendengarkan cerita mereka.
Mereka terdesak.
Sebagai akibatnya, mereka mendesak.
Mereka ditolak.
Akibatnya, mereka menolak.
Mereka terpojok.
Lalu mereka menaruh semua orang selain dirinya di sebuah ruangan yang sama.
Mereka disalahkan.
Logikanya, mereka menganggap dirinya paling benar.

Terorisme memiliki suatu sumber. Yaitu deprivasi. Deprivasi dalam masalah sumber daya ekonomi dan politis. Deprivasi atas ruang hidup, ruang publik, ruang ekspresi dan segala bentuk pengakuan yang memanusiakan manusia. Jika masalah deprivasi itu tidak ada, niscaya benda bernama terorisme itu tidak pernah muncul dan bertahan. Karena nyatanya memang, terorisme itu lahir dari sebuah permasalahan yang sangat amat mendasar. Bukan ideologi, tetapi deprivasi.

Deprivasi itu sendiri tidak ada sejak lahir. Ia muncul sebagai akibat interaksi di dalam masyarakat yang tersekat-sekat. Dari segi negara atau pemerintah, deprivasi itu lahir sebagai akibat proses pembangunan yang timpang dan hanya condong pada satu kelas, kelompok atau bagian masyarakat tertentu. Eksklusi yang terjadi hanya semakin menegaskan batas relasi yang bisa dimiliki seseorang. Dan dari situlah proses pengerdilan manusia itu dimulai.

Dan jangan heran ketika saya katakan bahwa kita sendiri yang membiarkan terorisme itu lahir. Bagaimana tidak? Perilaku kita yang sering abai terhadap lingkungan sekitar dan saudara sendiri menjadikan kita sama dengan orang-orang yang kita namakan ’teroris’ itu. Bukan, bukan karena kita tidak memeriksa KTP orang baru yang ngekos di tetangga. Tetapi karena kita semua pernah melakukannya.

Apakah itu?
Ketika kamu menjadi pimpinan perusahaan yang mengabaikan keberadaan masyarakat di sekitarmu.
Ketika kamu menjadi menteri yang tidak bisa membayar uang ganti rugi.
Ketika kamu menjadi guru yang menilai muridmu dari nilai UAN semata.
Ketika kamu selalu menuntut kewajiban karyawan dan melupakan haknya.
Ketika kamu menjadi Ustadz yang membagikan tiket ke surga dan neraka.
Ketika perusahaan iklanmu menentukan ukuran orang cantik dan orang biasa.
Ketika kamu hanya melihat orang dari penampilannya dan memanggilnya ’alay’.
Ketika koranmu hanya mewartakan berita tanpa ingin mengetahui makna.
Ketika kamu tidak mengizinkan pembantu untuk pulang ke kampung.
Ketika kamu tidak mengizinkan orang miskin untuk berobat di rumah sakitmu.
Ketika kamu tertawa di atas derita.
Ketika kamu meyakini kebenaran ucapan dirimu semata.

Di saat itu kamu sama saja seperti mereka.

2 thoughts on “Kamu Sama Seperti Mereka Koq..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.