Bangka

Ini perjalanan pertama saya ke pulau Bangka. Dan saya datang dengan kepala kosong, tetapi dengan sebuah ekspektasi yang cukup besar. Ternyata, kota Pangkalpinang sangat bersih dan lumayan banyak diisi dengan rumah- rumah tingkat. Sidik punya selidik, rumah – rumah bertingkat tersebut ternyata berisi burung Wallet. Yep, sarang burung wallet di sana justru lebih bagus daripada rumah si pemilik sarang itu sendiri. Mereka yang gemar memelihara burung, Wallet, pasti tahu bahwa keuntungan yang diperoleh cukup besar sehingga sebuah sarang yang bagus sama dengan investasi yang menjanjikan. Setelah itu, makan siang di tempat yang konon sudah cukup terkenal dan menjadi menu wajib buat mereka yang doyan wisata kuliner, yaitu Mie Koba. Yang membuat mie ini istimewa adalah kuahnya yang dibuat dari kari daging ikan. Rasanya ? Gurichchchchc. Dan bisa diperoleh di bawah ceban alias Rp 10.000.

Berhubung waktu untuk jalan – jalan tidak terlalu banyak, saya melangkahkan kaki keluar penginapan dan menuju pusat kota. Apa yang saya temukan? Kebutuhan mendasar laki-laki yang sangat murah (jangan salah. Yang gw maksud di sini adalah pakaian dalam. hehe.) No offense to Arsenal fans..hehe.

Kota bersahaja ini mudah diterima di hati. Tanpa kemacetan dan kebisingan, kita masih bisa berjalan kaki dengan nyaman, karena trotoarnya juga bersih dan tidak dikuasai pedagang kaki lima. Tempat sampah pun dibedakan antara sampah basah dan kering. Provinsi Bangka Belitung, yang dahulu tergabung ke dalam provinsi Sumatera Selatan memang tumbuh berkembang (dan juga mengalami kerusakan ekologis) akibat kegiatan pertambangan Timah. Kejayaan PT. Timah mungkin sudah lewat, tetapi kota ini masih bisa menunjukkan sisa-sisanya melalui museum timah. Timah memang primadona di pulau ini. Hingga sekarang masih banyak tambang tradisional yang dapat kita temui di dekat kota Pangkalpinang sekalipun.

 

Dari sekian banyak pantai yang layak dikunjungi di pulau ini, kami akhirnya memutuskan untuk singgah di Pantai Parai. Pantai ini mungkin hanya akan berkesan bagi mereka yang menginap di Parai Resort. Selebihnya? Tidak ada pantai umum, hanya ada sebuah sudut dari resort yang dibiarkan terbuka sehingga masyarakat umum bisa menikmati sedikit buih ombak. Pantai berikutnya : Tanjung pesona. Memang cukup memesona. Ombak dengan gulungan gemuk ditambah dengan fasilitas rekreasi yang sangat family friendly menjadi daya tarik tersendiri pantai ini.


Akhir perjalanan dan akhir cerita, kampung halaman Sandra Dewi memang sangat layak untuk disinggahi. Kualitas hidup itu dapat kita rasakan di sini. Udara yang bersih dan hangat, tanpa polusi serta keramahan warga menjadi pelengkap kehidupan yang (tampak) tenang tetapi menggeliat. Ingin sekali menginjakkan kaki di pulau Belitung, tetapi sayang waktu tidak memungkinkan karena butuh waktu selama 4 jam dengan kapal cepat untuk bisa menjangkau pulaunya “Laskar Pelangi”. Ingin sekali tinggal di pulau Bangka. Tetapi apa daya pihak yang menanggung seluruh biaya ‘liputan’ saya ini beralamat di Jakarta…. Ah ya. Kota Jakarta. Kalau kata Camera Obscura:What does the city have to offer to me? I just cant see, I just cant see..

2 thoughts on “Bangka

  1. Fajri

    eh lobak..emang lumayan koq, pulaunya masih bersih, dan pantai2nya ga terlalu rame..tapi katanya pulau belitungnya lebih yahud lagi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>