Telaah Telat atas Freakonomics

Mari kita mencoba menelaah ulang buku freakonomics yang telah menjadikan penulisnya, Steven D. Levitt dan Stephen J.Dubner sebagai ekonom terpandang dan tersohor, dengan berbagai sanjungan dan gugatan terhadapnya. Kedua penulis tersebut memang menawarkan sesuatu yang berbeda jika dibandingkan dengan buku- buku ekonomi lainnya yang mungkin pernah kita dengar. Buku ini sangat jauh dari karakter buku teks ekonomi, tetapi juga bukan merupakan fiksi. Ia populer, namun juga akademis pada saat yang bersamaan. Ia bisa dibaca seperti novel detektif, tetapi juga bisa dikutip untuk keperluan ilmiah. Buku ini mengernyitkan dahi kita, tetapi juga membuat kita tertawa. Sebuah fenomena? Mungkin. Sangat tergantung kepada pembacanya.
 
Satu hal yang pasti, buku ini menjadi sangat popular. Buktinya, ia menjadi New York Times Bestseller dan juga telah dicetak ulang pada tahun 2006. Buku ini memang dianggap telah berhasil memberikan wajah yang lebih humoris kepada ilmu ekonomi yang mungkin, sebagian dari kita samakan dengan wajah bapak-bapak setengah baya dengan kacamata tebal dan rambut beruban (atau botak sekalian).
 
Kedua penulis, yang merupakan duet antara ekonom dan wartawan, berhasil meracik sebuah buku yang manis dan cukup ringan dibaca untuk ukuran sebuah buku non-fiksi. Dengan mengambil kasus-kasus yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mereka berhasil menunjukkan bahwa ilmu ekonomi tidak hanya berguna dalam menghitung inflasi ataupun laba bersih perusahaan dalam setahun. Sebaliknya, kedua penulis mengajak kita untuk meyakini bahwa ilmu ekonomi mampu menjelaskan fenomena sosial (sosiologis) dengan menggunakan data- data univariat sederhana yang umumnya dianalisa secara historis.
 
Di sini kedua penulis mulai bermain dengan api. Keberhasilan mereka dalam ‘membumikan’ ilmu ekonomi harus dibayar dengan keskeptisan dalam penyajian dan penyimpulan data. Bagaimana tidak, karena dalam kasus-kasus yang mereka bahas, tidak terlihat suatu validitas dalam menyajikan dan menganalisa data. Mungkin karena ingin memaparkan dengan cara yang lebih sederhana, Steven D. Levitt menghindari penggunaan alat analisa berupa penghitungan korelasi dengan tabel ataupun statistik, yang merupakan nenek moyang dari alat ukur dalam ekonomi. Akibatnya, secara metodologis, kasus-kasus yang dibahas dalam Freakonomics lebih banyak mengandalkan ‘hubungan yang dibuat-buat’ dan didasari pengamatan serta kejenakaan Levitt.
 
Jujur saja, fenomena yang dibahas olehnya sama sekali belum tentu berhubungan. Yang ada sebenarnya ialah data yang kebetulan menguatkan argumen mereka. Padahal, jika data tersebut diberikan kepada orang lain, kesimpulan yang akan muncul belum tentu akan sama. Alasannya sangat sederhana, karena dari segi metode dan analisa, Levitt memang tidak terlalu mengandalkan pendekatan ilmiah. Ia memang tidak terlihat mengandalkan pendekatan positivistik. Namun, kalau kita baca sepintas, seolah penjelasan mereka itu fundamental dan tetap bermain- main dengan logika positivistik, tetapi hanya dengan mengandalkan data univariat.
 
Yang akhirnya muncul ialah suatu pendekatan ilmiah dengan daya khayl tinggi. Bagaimanapun juga, Steven D. Levitt mengakui bahwa ia bukan merupakan akademisi textbook , tetapi lebih menyerupai seseorang yang memiliki rasa penasaran tinggi dan memiliki cara-cara unik dalam memenuhi rasa penasaran tersebut.
 
Akhirnya, meskipun buku ini menyajikan sesuatu yang baru, tetapi secara keseluruhan saya tidak terlalu takjub dengannya. Justru impresi yang saya dapatkan ialah buku ini jatuh ke tangan pembaca yang tidak siap dengan membaca keadaan masyarakatnya. Atau dengan kata lain, buku ini hanya menggambarkan betapa masyarakat Amerika pada khususnya begitu ‘polos’ dalam membaca lingkungan sekitarnya. Mereka tampaknya selama ini menerima kondisi masyarakatnya dengan sikap taken for granted , sehingga ketika kedua pemuda ini melempar penjelasan-penjelasan imajinatif, penjelasan tersebut langsung disambut dengan tangan terbuka.
 
Tetapi buku ini memberi suatu pelajaran yang harus kita terima, dan mungkin juga bisa diterapkan untuk ilmu sosiologi. Mengapa tidak, untuk menjelaskan berbagai kasus di masyarakat dengan mengurangi gaya ilmiah, dan lebih menggunakan pendekatan populer. Setidaknya, dengan cara tersebut, kita bisa lebih mendekatkan masyarakat dengan ilmu sosiologi.

2 thoughts on “Telaah Telat atas Freakonomics

  1. Alfin

    Apakah anda menjual buku Freakonomics anda yg bhs indo ? saya pengen skali membacanya thx bila mana anda berkenan untuk menjual ato meminjamkan nya thx

    tolong email ke saya apaansihh@Hotmail.com / 087881650380

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>